Selasa, 31 Desember 2013

Teknologi informasi dalam budidaya


Aplikasi SIG Untuk Kesesuaian Kawasan Budidaya Teripang Holothuria scabra dengan Metode Penculture di Pulau Mantang, Kecamatan Mantang, Kabupaten Bintan
Dendi Marizal, Yales Veva Jaya, Henky Irawan

RINGKASAN
Pendahuluan
Kabupaten Bintan khususnya di Kecamatan Mantang banyak ditemukan usaha budidaya ikan dan rumput laut, tapi tidak ditemukan kegiatan budidaya teripang. Kabupaten Bintan memiliki potensi perikanan sangat besar untuk dikembangkan menjadi kawasan budidaya teripang. Oleh karena itu perlu dilakukan suatu pengkajian dengan maksud untuk mengetahui daya dukung lingkungan, sehingga akan ditemukan suatu kawasan yang benar – benar memilik tingkat kesesuaian yang baik untuk budidaya teripang. Jika dapat terwujud maka akan sangat bermanfaat bagi masyarakat, mengingat tingginya nilai ekonomis biota ini yang juga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.
Pemanfaatan SIG sangat berkontribusi bagi perkembangan budidaya. Sistem Informasi Geografi (SIG) dapat melihat objek pada jarak tertentu, mendeteksi atau mengukur sifat-sifat karakteristik objek, tanpa mendatangi objek tersebut. SIG  merupakan analisis secara spasial (keruangan) yang dapat memadukan beberapa data dan informasi tentang budidaya perikanan dalam bentuk lapisan (layer) yang dapat di tumpang lapiskan (overlay) pada data yang lain, menghasilkan suatu keluaran baru dalam bentuk peta tematik memiliki tingkat efisiensi dan akurasi yang cukup tinggi. 
Tahap awal adalah penentuan kawasan yang sangat sesuai untuk budidaya perikanan terutama budidaya teripang pasir Holothuria scabra, penelitian dapat mencakup daerah yang cukup luas. Aplikasi SIG (Sistem Informasi Geografis) dapat membantu atau mempermudah dalam menganalisis data dan dapat membantu menentukan kawasan budidaya teripang pasir yang sangat sesuai. Daerah penelitian merupakan perairan laut Pulau Mantang, area laut berdasarkan kedalaman 0,2 – 1,5 m dari surut terendah. Daerah daratan tidak termasuk area hanya dari batas garis pantai kearah laut dengan kedalaman 1,5 m dari surut terendah. Daerah pesisir pantai yang sudah ada fasilitas umum berupa KJA, KJT,  pelabuhan dan pemukiman warga, maka daerah tersebut tidak sesuai untuk budidaya teripang. 
Tujuan dan Metode
Tujuan penelitian ini adalah menganalisis kesesuaian kawasan budidaya teripang menggunakan Aplikasi SIG yang disajikan atau keluaran dalam bentuk Peta Kesesuaian Kawasan  Budidaya Teripang Pasir Holothuria scabra dengan metode Penculture di Kecamatan Mantang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah mengumpulkan data lapangan terhadap kondisi perairan laut di Pulau Mantang, Kecamatan Mantang, Provinsi Kepulauan Riau, penyusunan basis data dan data yang diperoleh dianalisis menggunakan arc view.
Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini adalah menentukan lokasi penelitian dengan kriteria keterlindungan pantai, kondisi dasar perairan, parameter fisika dan kimia serta faktor pembatas. Setelah itu melakukan prosedur penelitian, lalu menganalisa secara spasial yaitu matrik pembobotan dan skoring, kemudian menganalisanya secara overlay yaitu dengan menggabungkan informasi beberapa peta untuk menghasilkan informasi yang baru. Setelah analisa overlay dilakukan maka akan didapatkan peta kesesuaian kawasan budidaya teripang.
Hasil Pembahasan         
  •     Peta Bathimetri
Peta bathimetri diinterpolasi dari titik hingga menjadi peta kontur kedalaman berupa polygon digunakan sebagai peta dasar untuk seluruh peta tematik, daerah penelitian dibatasi oleh kedalaman perairan 0,4 – 1,5m pada saat surut terendah. Kedalaman perairan sesuai untuk wadah budidaya yang digunakan berupa penculture. Sedangkan untuk peta tematik atau peta-peta parameter pendukung budidaya teripang mengikuti dari peta kedalaman. Peta tematik terdiri dari peta substrat, peta keterlindungan pantai, peta suhu, peta kedalaman, peta kecerahan, peta pH, peta salinitas, peta oksigen terlarut dan peta faktor pembatas.


  •    Peta Kesesuaian Kawasan
Hasil dari analisa overlay dari sembilan peta tematik, menghasilkan dua kelas kesesuaian yaitu: Kelas sesuai (S2) dan tidak sesuai (N). Keseluruhan garis pantai pulau mantang 34,13 km2.  Kelas sesuai (S2)  dikategorikan baik untuk budidaya teripang dimana parameter -parameter pendukung masih dikategorikan bisa dan faktor pembatas tidak berpengaruh secara nyata atau kurang berarti terhadap wilayah budidaya teripang, untuk kegiatan budidaya teripang sebaiknya dilakukan di daerah ini, luas wilayah yang sesuai untuk wilayah budidaya teripang berdasarkan garis pantai 15,98 km2. Kelas yang terakhir kelas tidak sesuai (N), kelas ini tidak sesuai dengan literatur kesesuaian kawasan budidaya teripang karena memiliki faktor pembatas luas wilayahnya 18,15 km2, faktor pembatas tersebut berupa : terdapat bangunan permanen atas air (pemukiman warga), pelabuhan, KJA dan KJT. 


Kesimpulan
Hasil penelitian di perairan laut Pulau Mantang diperoleh luasan kesesuaian kawasan budidaya teripang yaitu : kelas sesuai (S2) berdasarkan garis pantai panjangnya 15,98 km2 dan dari garis pantai ke arah laut luasnya 39.78 km2. Dari luas kelas sesuai untuk kawasan budidaya teripang diperoleh 39 unit wadah budidaya penculture dengan luas 1000 m2. Sedangkan untuk 500 m2  didapatkan 78 unit wadah budidaya penculture. Kelas tidak sesuai (N) berdasarkan garis pantai panjangnya 18,15 km2, dan dari garis pantai kearah laut luasnya 59.96 km2.
KOMENTAR
            Menurut saya penggunaan aplikasi SIG sangat berguna dalam menentukan kawasan yang sesuai untuk kegiatan budidaya demi mengembangkan sektor perikanan di suatu wilayah, sekalipun wilayah tersebut berada di pelosok dan sulit untuk menuju ke wilayah tersebut. Aplikasi SIG akan memudahkan kita untuk menentukan kawasan yang sesuai untuk budidaya tanpa harus survei langsung kelapangan, hasil yang didapat pun akurat dan sama seperti dilapangan karena memanfaatkan satelit untuk memperoleh data. Misalnya seperti jurnal diatas yang memanfaatkan aplikasi SIG untuk menentukan kawasan yang sesuai untuk budidaya teripang Holothuria scabra di Pulau Mantang, Kabupaten Bintan, Riau.     


Tidak ada komentar:

Posting Komentar